Aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung. Aku juga ingin jajan terus!
Aku capek, sangat capek, karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati.
Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman- temanku, sedang mereka seenaknya saja bersikap kepadaku.
Aku capek ayah, aku capek menahan diri. Aku ingin seperti mereka yang terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah!” Begitu sedihnya, sehingga sang anak pun mulai menangis.
Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata: ”Anakku, ayo ikut ayah. Ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu.” Lalu sang ayah menarik tangan sang anak, kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang.
Lalu sang anak pun mulai mengeluh ”Ayah kita mau kemana sih?? Aku tidak suka jalan ini. Lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi serangga, berjalanpun susah karena ada banyak ilalang. Aku benci jalan ini ayah!” Sang ayah hanya terdiam. Mereka pun tetap berjalan terus.
Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu-kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang.
“Wwaaaah.. tempat apa ini ayah? Aku suka! Aku suka sekali tempat ini!” Sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah,” ujar sang ayah. Si anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
”Anakku, tahukah engkau mengapa di sini begitu sepi? Padahal tempat ini begitu indah?”
”Tidak tahu Ayah, memangnya kenapa?”
KISAH YANG SANGAT BAGUS DAN PENUH HIKMAH UNTUK KITA
Tentang seseorang yang menjadi pilihan hidup kita: “Orang selalu berkata ada bekas Istri atau bekas Suami, tapi tidak ada bekas anak dan bekas orang tua.” Mungkin cerita bijak berikut ini dapat merubah pandangan tersebut dan membuat seseorang ingin memiliki suami atau istrinya sampai akhir hayat dan mikir 1000 kali untuk menyakiti hatinya dan menduakan cintanya dengan yang lain.
Seorang dosen mengadakan permainan kecil kepada mahasiswanya yang sudah berkeluarga dan meminta 1 orang maju ke papan tulis.
Dosen : “Tulis 10 nama yang paling dekat dengan Anda.”
Lalu mahasiswa tersebut menulis 10 nama. Ada nama tetangga, orang tua, teman kerja, istri, anaknya, dsb.
Dosen : “Sekarang silahkan pilih 7 diantaranya yang sekiranya Anda ingin hidup terus bersamanya”.
Lalu mahasiswa itu mencoret 3 nama.
Dosen : “Coret 2 nama lagi”, dan tinggallah 5 nama.
Dosen : “coret lagi 2 nama”, maka tersisalah 3 nama yaitu : orang tua, istri dan anaknya.
Suasana kelas hening. Mereka mengira semua sudah selesai dan tidak ada lagi yang harus dipilih.
Tiba-tiba Dosen berkata : ”Silahkan coret 1 nama lagi!”, mahasiswa itu pun perlahan mngambil pilihan yang amat sulit, lalu mencoret nama orang tuanya secara perlahan.
Dosen : ”Silahkan coret 1 nama lagi!”. Hati sang mahasiswa menjadi bingung. Kemudian mengangkat kapur dan lambat laun mencoret nama anaknya dan mahasiswa itupun menangis.
Setelah suasana tenang sang Dosen bertanya pada Mahasiswa itu. “Kau tidak memilih orang tua yang membesarkanmu? Tidak juga memilih anak yang berasal dari darah dagingmu? sedang istri itu bisa dicari lagi.”
Semua orang di dalam kelas terpana menunggu jawaban dari Mahasiswa itu.
Lalu sang Mahasiswa itu berkata, “Seiring waktu berlalu, orang tua saya akan pergi dan meninggalkan saya, sedang anak jika sudah dewasa menikah lalu pergi meninggalkan saya juga. Sedangkan yang benar-benar menemani saya dalam hidup ini hanyalah ISTRI saya. Orang tua dan anak bukan saya yang memilih, tapi Tuhan yang menganugerahkan, sedang ISTRI, sayalah yang memilih dan dengan izinNya. Istri adalah bagian dari diriku, karena dia adalah tulang rusukku.."
Bukan berarti anak dan orang tua adalah tidak penting tapi untuk merubah pandangan bahwasanya kita harus selalu menghargai pasangan, saling menyayangi, menerima apapun kelebihan dan kekurangan pasangan dan jangan rusak ikatan pernikahan hanya karena tergoda oleh orang ketiga dan menuruti hawa nafsu duniawi saja. Suami/istrimu adalah pilhanmu, ayah dan ibu dari anak-anakmu.
Aku capek, sangat capek, karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati.
Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman- temanku, sedang mereka seenaknya saja bersikap kepadaku.
Aku capek ayah, aku capek menahan diri. Aku ingin seperti mereka yang terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah!” Begitu sedihnya, sehingga sang anak pun mulai menangis.
Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata: ”Anakku, ayo ikut ayah. Ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu.” Lalu sang ayah menarik tangan sang anak, kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang.
Lalu sang anak pun mulai mengeluh ”Ayah kita mau kemana sih?? Aku tidak suka jalan ini. Lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi serangga, berjalanpun susah karena ada banyak ilalang. Aku benci jalan ini ayah!” Sang ayah hanya terdiam. Mereka pun tetap berjalan terus.
Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu-kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang.
“Wwaaaah.. tempat apa ini ayah? Aku suka! Aku suka sekali tempat ini!” Sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah,” ujar sang ayah. Si anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
”Anakku, tahukah engkau mengapa di sini begitu sepi? Padahal tempat ini begitu indah?”
”Tidak tahu Ayah, memangnya kenapa?”
KISAH YANG SANGAT BAGUS DAN PENUH HIKMAH UNTUK KITA
Tentang seseorang yang menjadi pilihan hidup kita: “Orang selalu berkata ada bekas Istri atau bekas Suami, tapi tidak ada bekas anak dan bekas orang tua.” Mungkin cerita bijak berikut ini dapat merubah pandangan tersebut dan membuat seseorang ingin memiliki suami atau istrinya sampai akhir hayat dan mikir 1000 kali untuk menyakiti hatinya dan menduakan cintanya dengan yang lain.
Seorang dosen mengadakan permainan kecil kepada mahasiswanya yang sudah berkeluarga dan meminta 1 orang maju ke papan tulis.
Dosen : “Tulis 10 nama yang paling dekat dengan Anda.”
Lalu mahasiswa tersebut menulis 10 nama. Ada nama tetangga, orang tua, teman kerja, istri, anaknya, dsb.
Dosen : “Sekarang silahkan pilih 7 diantaranya yang sekiranya Anda ingin hidup terus bersamanya”.
Lalu mahasiswa itu mencoret 3 nama.
Dosen : “Coret 2 nama lagi”, dan tinggallah 5 nama.
Dosen : “coret lagi 2 nama”, maka tersisalah 3 nama yaitu : orang tua, istri dan anaknya.
Suasana kelas hening. Mereka mengira semua sudah selesai dan tidak ada lagi yang harus dipilih.
Tiba-tiba Dosen berkata : ”Silahkan coret 1 nama lagi!”, mahasiswa itu pun perlahan mngambil pilihan yang amat sulit, lalu mencoret nama orang tuanya secara perlahan.
Dosen : ”Silahkan coret 1 nama lagi!”. Hati sang mahasiswa menjadi bingung. Kemudian mengangkat kapur dan lambat laun mencoret nama anaknya dan mahasiswa itupun menangis.
Setelah suasana tenang sang Dosen bertanya pada Mahasiswa itu. “Kau tidak memilih orang tua yang membesarkanmu? Tidak juga memilih anak yang berasal dari darah dagingmu? sedang istri itu bisa dicari lagi.”
Semua orang di dalam kelas terpana menunggu jawaban dari Mahasiswa itu.
Lalu sang Mahasiswa itu berkata, “Seiring waktu berlalu, orang tua saya akan pergi dan meninggalkan saya, sedang anak jika sudah dewasa menikah lalu pergi meninggalkan saya juga. Sedangkan yang benar-benar menemani saya dalam hidup ini hanyalah ISTRI saya. Orang tua dan anak bukan saya yang memilih, tapi Tuhan yang menganugerahkan, sedang ISTRI, sayalah yang memilih dan dengan izinNya. Istri adalah bagian dari diriku, karena dia adalah tulang rusukku.."
Bukan berarti anak dan orang tua adalah tidak penting tapi untuk merubah pandangan bahwasanya kita harus selalu menghargai pasangan, saling menyayangi, menerima apapun kelebihan dan kekurangan pasangan dan jangan rusak ikatan pernikahan hanya karena tergoda oleh orang ketiga dan menuruti hawa nafsu duniawi saja. Suami/istrimu adalah pilhanmu, ayah dan ibu dari anak-anakmu.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar